Rindu FajarNya

Posisiku dengan mimpi, hari Senin dengan fajarNya. Berlalu seperti begitu saja.
Itu bukan mimpi, bukan juga ilusi. Adalah pertanyaan bagaimana jika aku merindukannya?
Mimpiku matahari seperti saat menuju mega, tapi bukan sore itu. Aku yakin itu mimpi.
Tapi bukan mimpi, sama sekali bukan ilusi. Benarkah aku meindukannya?
Hilanglah fajar, aku merindukannya.
Saat itu pun aku tau esok bukan lagi fajar yang sama.
Masih senin, adalah ketentuanNya. Bukan aku saja.
Semua seperti mimpi kehilangannya, bukan kata "seperti" lagi untuk merindukannya. Aku terbangun dalam sadarku semua adalah takdirNya.
Ada menyesal hanya aku tak
selalu mengenalnya, ada bahagia karena lebih banyak kita bersama.
Fajar yang itu tinggal masa lalu, dengan kenangan, dengan cahaya nya yang tak pernah kalah dengan senjaNya.


Terbitlah matahari, takkan ada lagi fajar seperti itu.
Rindu yang sama seperti tiga tahun yang lalu dan tahun lainnya. Fajarku, FajarNya.




Senin, 09 Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Lengkap Ir. Soekarno dalam Konferensi Asia Afrika (KAA)

Let New Asia and Africa be Born - Ir. Soekarno